
Kemiskinan dan keterbatasan bukan penghalang bagiku untuk meraih cita-cita. Semangat, ketekunan, dan doa adalah senjata untuk mewujudkan mimpi.
Dilahirkan di keluarga dengan ekonomi kurang tidak selalu menjadi alasan terhambatnya segala keinginan. Orang tuaku berlatar pendidikan terbatas, bapakku tamat sekolah Belanda di Bandung semasa waktu perang (sy kurang mengerti sekolahnya), sedangkan ibuku SD saja tidak tamat. Meskipun keadaan ekonomi yang serba pas-pasan, namun itu tidak mengoyahkan niat kedua orang tuaku untuk menyekolahkan anaknya. Layaknya harapan orang tua pada umumnya mereka berharap sy bisa bernasib lebih dari mereka di kemudian hari. Orang bijak mengatakan “mengangkat derajat orang tua”. Karena sy anak semata wayang, tidak aneh bila permintaanku selalu dituruti terutama oleh bapakku. Namun hal itu tidak membuatku jadi anak manja dan cengeng. Sy bahkan dibiasakan untuk mandiri sejak kecil dan tidak tergantung pada orang lain.
Sejak duduk di bangku SDLB, sy selalu berprestasi. Peringkatku teratas selalu mendapat 3 besar di kelas adalah langanan tetapku. Prestasi itulah yang memudahkanku untuk masuk SMP dan SMA umum.
Ketika sy memasuki ujian EBTANAS, kenyataan yang pahit dalam hidup kembali harus kuterima. Bapakku pergi untuk selama-lamanya akibat koma selama 2 Minggu. Penyakit itu menjangkitinya karena selain pekerjaan bapak yang senatiasa berhubungan dengan alat-alat berat, bapakku seorang kakek sudah tua. Sebelum koma, bapakku sempat memberi pesan “Tri, kamu rajin belajar ya, gak usah memikirkan bapak. Berjuanglah meraih cita-cita yang kamu inginkan ya…” Akhirnya sy turut dan sempat peluk bapakku yang terakhir selama dirawat di RS Paviliun. Sy gak tahu kalau Allah memanggil bapakku pulang ke Rahmatulloh. Hingga saat ini masih segar dalam ingatanku akan pesan terakhir bapakku yang disampaikanya beberapa hari sebelum beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir, agar sy segera mengenakan jilbab.
Kepergian bapakku tentunya merupakan pukulan berat bagi keluargaku. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang tak pandai mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Harapanku nyaris pupus untuk bisa melanjutkan pendidikan. Namun sy berserah diri sepenuhnya pada Allah. Dalam hatiku, sy menyakini bahwa Allah tak akan memberikan cobaan yang tak mampu ditanggung oleh hamba-Nya. Keyakinan itulah yang membuat ibuku dan sy optimis untuk menjalani hari-hari tanpa kehadiran bapakku. Akhirnya selang 7 hari setelah bapakku meninggal, ibuku mendapat kepercayaan mendidik sy.
Setelah bapakku meninggalkan, ibuku ajak pindah ke desa yang berasal tempat kelahiran ibuku dan sy. Sy gak mampu memasuki sekolah SLTPLB SR III dan rela meninggalkan teman-temanku yang baik padaku. Sy pilih melanjutkan sekolah umum dengan keinginanku sendiri tanpa ada paksaan. Ibuku senang dan bangga punya anak memiliki percaya diri tinggi dan gak minder… Sy memasuki sekolah SLTPN 2 Ciawi dengan biaya murah sekali. Sy rajin menabung yang sisanya dari hasil jajan sekolah untuk membantu membiaya sekolah sendiri.
Yang bersekolah di sana, sy satu-satu anak cacat tuna rungu dan rata-rata adalah anak orang kampung, tapi itu gak membuatku minder untuk bergaul dengan mereka. Prinsipku, tujuan utamaku di sekolah adalah belajar. Alhamdulillah, selalu ada kemudahan-kemudahan yang kuperoleh. Sy selalu mendapat peringkat 10 besar dari 45 murid per kelas. Tetapi tidak jarang ada pula orang-orang di sekitarku yang mengejekku dan menudingku bahwa orang cacat gak pantas masuk sekolah unggulan. Tudingan dan ejekan itu sudah biasa singgah di telingaku, namun hatiku tak pernah memperdulikannya.
Alhamdulillah, sy bisa lulus dari sekolah SMP dan melanjutkan SMA yang favorit. Namun gagal masuk sekolah SMAN 1 Ciawi karena nilainya kurang, mendingan sy memasuki sekolah swasta adalah SMA YZA 1 Bogor. Waktu bergulir tanpa terasa. Tak kusangka sy mendapat prestasi beasiswa di SMA dan bisa meringankan biaya sekolah. Ibuku sayang banget sy dan ibuku punya nekat untuk meneruskan sy kuliah. Jika kelak tabunganku sudah berkumpul, sy akan melanjutkan kuliah. Ketika kelas 2 SMA, sy mantap menggenakan jilbab dengan kemauan sy sendiri tanpa ada paksaan sebelum ibuku berjibab. Sy belajar agama Islam bersama ibu Tri Wanti di SR untuk mengembangkan ilmu Islami. Tak terasa waktu kemudian, Alhamdulillah sy lulus SMA dengan prestasi baik. Semasa SMA, sy mengikuti seleksi ujian kuliah satu-satu di Gunadarma. Setelah lulus, sy punya niat untuk mengikuti SPMB di UI dan IPB. Namun gagal lolos, tak kusangka sy mendapat banyak brosur dan beasiswa yang dikirim lewat pos dari UNIKOM (Universitas Ilmu Komputer), Gunadarma, STTI (Sekolah Tinggi Telemantika Informasi), STIKOM (Sekolah Tinggi Ilmu Komputer) dan Univeristas … di Malang (sy lupa namanya Universitas). Setelah menerima surat penerimaan beasiswa, sy sempat bingung dan bimbang karena selain tidak ada biaya, berarti sy juga harus pergi ke luar kota dan meninggalkan ibuku sendirian. Sebelum mendaftar, sy melaksanakan shalat Istikharah dan meminta petunjuk pada Allah, langkah apa harus kutempuh, memilih kuliah yang memudahkanku belajar pelajaran yang tinggi sampai mendapat gelar sarjana. Kakak-kakak membantu mencari informasi kampus tersebut yang sy terima surat. Ternyata kampus tersebut kurang bagus bagiku. Sy meminta ijin untuk mendaftar di UNIKOM tapi ibuku gak mampu membiaya di sana apalagi gak rela sy jauh-jauh, banyak pertimbangan yang memberatkan selain faktor biaya. Di sana harus ada membiaya kost, membeli makanan, membayar semesteran dan ongkos kuliah. Akhirnya sy turut dan tetap nekat untuk melanjutkan di Gunadarma, bagiku sayang melewatkan kesempatan tersebut karena jurusan yang tersedia memang jurusan yang kuminati untuk memperdalami ilmu teknologi informasi di dunia komputer yang tercanggih. Kuambil kampus dan jurusan tersebut apapun resikonya. Sy berdoa dan pasrah pada Allah agar sy senantiasa diberikan kemudahan. Kuliah jauh dari keluarga dan tak seorang pun kerabat (ibuku), membuatku berjuang melakukan pekerjaan apapun untuk bertahan hidup. Untuk menghilangkan kejenuhan dan mengisi waktu luang sy membuat kerajinan tas, gantungan dll dengan manik-manik dan membantu menjual kerudung/jilbab bersama bibiku. Kadang sy dipanggil membantu membuat laporan di RS MMC bersama ua sy (BOS). Hasil dari rejeki, Alhamdulillah bisa membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah, hingga sy tak lagi membebani ibuku. Namun kadang susah mendapat rejeki, sy memberanikan pinjam uang kepada seorang sahabat yang percaya sama sy. Pinjamannya gak lama kok, sebentar. Sy gak suka mengingkar janji maupun menipu sama sahabatku sendiri… Tak kusangka, ibuku mendapat pekerjaan di Jakarta untuk membiaya kuliah sy dan kakak Jakarta kadang membantu sy juga. Tak lupa, sy kembali hutang sy sama sahabatku. Sy benar-benar bersyukur atas karunia Allah yang selalu memudahkan langkahku. Terima kasih banget sama sahabatku sendiri yang membantu sy selama ini.
Tanpa terasa waktu demi waktu kuliah berlalu tanpa rintangan yang memberatkan. Sy merasa sangat bahagia dan bersyukur, Alhamdulillah sekarang sy sudah lulus sarjana komputer meski orang tuaku tidak mengeyam pendidikan tinggi.
Allah memberi sy lahir ke dunia nyata dengan cacat tuna rungu dari rahim ibuku, sy sangat bersyukur punya kelebihan juga. Ketika sy punya akal dan rohani Islami, sy wajib membalas kebaikan buat orang yang kucintai adalah seorang ibuku dan juga Allah SWT. Sy ingat, ibuku bilang “sekarang ibu sudah tua dan lemah tapi berjuang demi sy untuk meneruskan kuliah sampai lulus dan mendapat gelar sarjana. Kalau sy sudah kerja, ibu berhenti kerja dan mau istirahat di rumah.”
Akhirnya sy nangis,,,,